Brilio.net - Nama Isa Almasih muncul dalam unggahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat membagikan momen wisuda. Sosok tersebut merupakan mahasiswa UMM yang baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Dalam video yang diunggah akun Instagram @ummcampus, Isa memperkenalkan diri di hadapan Rektor UMM.

Isa Almasih wisuda dari UMM © 2026

Isa Almasih wisuda dari UMM
© 2026 /Instagram/@ummcampus; Instagram/@isaalmasihpm

“Perkenalkan, nama saya Isa Almasih,” ucapnya, dilansir brilio.net dari Instagram @ummcampus, Jumat (25/9/2026).

“Tenang, tenang, tenang, ada lanjutannya Pak Rektor. Putra Muhammadiyah,” tambahnya.

Nama Isa Almasih kemudian disinggung dalam candaan di video tersebut. UMM sebelumnya pernah meluluskan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) bernama Imam Mahdi. Kini, UMM kembali meluluskan mahasiswa dengan nama Isa Almasih.

“UMM dahulu pernah meluluskan mahasiswa FEB bernama Imam Mahdi. Hari ini, UMM kembali meluluskan Isa Almasih,” ujar Isa dalam pidatonya dalam acara wisuda.

Isa Almasih wisuda dari UMM © 2026

Isa Almasih wisuda dari UMM
© 2026 /Instagram/@ummcampus; Instagram/@isaalmasihpm

“Sebetulnya Imam Mahdi dan Isa Almasih turun di mana? Jawabannya sederhana: di Kampus Putih kita tercinta. Tepuk tangan untuk UMM!” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Isa juga menyampaikan pesan kepada para wisudawan. Ia mengingatkan bahwa toga yang dikenakan pada hari kelulusan tidak terlepas dari dukungan orang tua dan dosen.

“Kalau hari ini kami berdiri dengan toga, sesungguhnya ada tangan Bapak Ibu yang menopang kami di balik toga itu,” katanya.

“Maka tepuk tangan paling panjang hari ini bukanlah untuk kita, tetapi untuk Bapak Ibu dosen, untuk orang tua kita semuanya,” lanjut Isa.

Kisah Isa Saat Yudisium, dari Anak Kampung hingga Kuliah di UMM

Isa Almasih wisuda dari UMM © 2026

Isa Almasih wisuda dari UMM
© 2026 /Instagram/@ummcampus; Instagram/@isaalmasihpm

Cerita mengenai perjalanan pendidikannya juga ditulis Isa melalui akun Instagram pribadinya, @isaalmasihpm. Tulisan berjudul “Dari Anak Kampung Menuju Gelanggang Intelektual” tersebut menjadi bagian dari unggahannya saat membagikan momen yudisium.

Dalam tulisan itu, Isa menceritakan latar belakangnya sebelum akhirnya menempuh pendidikan di UMM. Ia menyebut dirinya berasal dari lingkungan kampung dan pernah menghabiskan hari-harinya dengan menggembalakan ternak.

“Kehidupan sering kali menyimpan skenario terbaik di luar batas nalar dan kalkulasi manusia. Berangkat dari latar belakang seorang anak kampung yang hari-harinya dihabiskan menggembalakan ternak, dengan menimba ilmu di sekolah yang jauh dari kata istimewa, merantau ke Malang untuk berkuliah awalnya bukanlah sebuah opsi yang terlintas dalam benak saya,” tulis Isa, dilansir dari Instagram @isaalmasihpm

Pandemi sempat membuat semangat belajarnya menurun. Setelah itu, ia akhirnya melanjutkan pendidikan ke Fakultas Agama Islam UMM dan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam.

“Pandemi sempat meredupkan gairah belajar, hingga akhirnya takdir menuntun saya melangkah ke Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),” tulisnya.

Isa juga menceritakan tantangan yang dihadapinya ketika masuk jurusan tersebut. Ia tidak memiliki latar belakang pendidikan pondok pesantren, sedangkan sebagian besar rekan seangkatannya merupakan lulusan pondok.

“Memasuki jurusan Pendidikan Agama Islam tanpa bekal pendidikan pondok pesantren—di tengah mayoritas rekan seangkatan yang merupakan lulusan pondok—sempat menghadirkan tantangan psikologis tersendiri,” tulis Isa.

Selama kuliah, ia kemudian banyak bertemu dengan dosen, kolega diskusi, serta lingkungan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Menurut Isa, berbagai diskusi yang dilakukan turut membuka cara pandangnya terhadap filsafat, sosiologi, dan pemikiran Islam.

“Diskusi panjang hingga larut malam di kedai-kedai kopi bersama senior bukan sekadar obrolan ringan, melainkan ruang pembentukan dialektika filsafat, sosiologi, dan pemikiran Islam,” tulisnya.

Dari berbagai diskusi tersebut, Isa mulai menghasilkan karya tulis. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan sarjananya dengan IPK 3,97.

“Dari ruang-ruang dialog yang memikat itulah lahir berbagai karya tulis, yang hari ini mengantarkan saya menyandang gelar sarjana sekaligus predikat mahasiswa berprestasi dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,97,” tulis Isa.

Isa Almasih wisuda dari UMM © 2026

Isa Almasih wisuda dari UMM
© 2026 /Instagram/@ummcampus; Instagram/@isaalmasihpm

Ia menyebut pencapaian tersebut bukan semata-mata hasil kemampuan dirinya sendiri.

“Capaian ini bukanlah semata-mata buah dari kecakapan personal, melainkan manifestasi dari pertolongan Allah SWT serta hasil dari ekosistem akademik yang mencerahkan,” tulisnya.

Dalam unggahan yudisium tersebut, Isa juga menyampaikan persembahan untuk kedua orang tuanya. Ia menyebut sang ayah sebagai teladan melalui keterlibatan dan pengabdiannya sebagai aktivis Muhammadiyah.

Sementara itu, Isa turut menuliskan tentang ibunya yang telah meninggal dunia pada 9 September 2025.

“Seluruh pencapaian ini saya persembahkan dengan penuh takdzim kepada orang tua tercinta. Kepada Bapak, yang senantiasa menjadi teladan luhur dalam ketelibatan dan pengabdiannya sebagai aktivis Muhammadiyah. Serta kepada almarhumah Ibu, madrasah pertama dalam hidup saya, yang telah berpulang ke hadirat Ilahi pada 9 September 2025 lalu; doa dan kasih sayang beliau senantiasa menjadi suluh yang menerangi setiap langkah,” tulisnya di kolom komentar, sebagai lanjutan keterangan sebelumnya.

Di bagian akhir tulisan yudisium tersebut, Isa menyebut kelulusan bukan sebagai akhir dari perjalanan pendidikannya.

“Yudisium hari ini bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan, melainkan titik tolak baru,” tulis pria yang mencantumkan keterangan scientist dan researcher pada bio Instagramnya tersebut.