Brilio.net - Minat masyarakat terhadap investasi emas terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Selain dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven), emas juga dinilai mampu menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang. Namun, seiring meningkatnya kepemilikan emas, aspek penyimpanan menjadi perhatian penting.
Perbincangan mengenai cara menyimpan emas kembali mencuat setelah aparat mengungkap dugaan kasus suap dan tindak pidana pencucian uang beberapa waktu lalu. Dalam penggeledahan sebuah rumah mewah di kawasan Sentul, Bogor, tim gabungan Polri menemukan brankas tersembunyi di balik panel kayu.
Dari dalam brankas tersebut, penyidik menemukan tujuh koper yang berisi emas batangan seberat 74 kilogram, uang tunai 4.767.300 dolar Amerika Serikat, 14.083.800 dolar Singapura, serta Rp100 juta. Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Totok Suharyanto mengestimasi nilai keseluruhan aset yang diamankan mencapai sekitar Rp476 miliar.
Kasus tersebut ikut memunculkan kembali diskusi mengenai keamanan menyimpan emas batangan secara fisik di rumah dibandingkan menggunakan layanan penyimpanan resmi seperti bullion atau bank emas.
Jahja Setiatmadja memilih bullion untuk menyimpan emas
Komisaris Utama BCA, Jahja Setiatmadja, mengungkapkan bahwa emas merupakan salah satu instrumen dalam portofolio investasinya. Hal itu disampaikannya saat berbincang bersama Andi F Noya dalam sebuah acara talk show “Risk and Governance Summit (RGS) 2026” yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Selasa (14/7/2026).
Meski memiliki investasi emas, Jahja mengaku tidak menyimpan emas batangan dalam jumlah besar di rumah. Ia memilih memanfaatkan layanan bullion atau bank emas agar aset tersebut dikelola oleh lembaga berizin dengan sistem penyimpanan yang lebih profesional.
Saat ditanya Andi F Noya yang juga seorang jurnalis senior mengenai jumlah emas yang dimilikinya, Jahja menjelaskan bahwa pola investasinya kini telah berubah.
"Nah, kalau batang emas itu udah old fashion, Pak,” kata Jahja Setiatmadja dikutip brilio.net dari YouTube Otoritas Jasa Keuangan, Rabu (15/7/2026).
Ia kemudian menjelaskan bahwa saat ini dirinya lebih memilih emas digital atau virtual gold.
"Sekarang ini adalah virtual gold. Nah, virtual gold bukan saya promosi ya, salah satu yang saya pakai juga, tren, itu punya Pegadaian. Itu hebat itu, itu. Bisa beli... ya ini bukan promosiin Pegadaian ya, emang kenyataan kita bicara kalau yang bagus pakai fakta gitu,” papar Jahja.
Selain Pegadaian, Jahja juga menyebut layanan serupa tersedia di sejumlah lembaga keuangan lain. Namun, ia menegaskan pilihan tersebut merupakan pengalaman pribadinya sebagai investor.
Alasan memilih virtual gold dibanding emas batangan
Jahja menilai salah satu keunggulan bullion atau virtual gold adalah kemudahan transaksi. Menurutnya, investor dapat membeli maupun menjual emas kapan saja tanpa harus membawa atau menyimpan emas fisik.
Ia juga mengaku masih memiliki sedikit emas batangan. Namun untuk kepemilikan dalam jumlah besar, dirinya lebih memilih penyimpanan melalui layanan bullion.
"Ya sedikit-sedikit ada lah, tapi kalau yang jumlah besar saya lebih baik virtual. Kenapa? Karena virtual anytime mau jual juga bisa, mau beli juga bisa, gampang,” kata Jahja menjelaskan.
Pernyataan tersebut kemudian disambut Andi F Noya yang menyinggung temuan emas batangan seberat 74 kilogram dalam sebuah kasus yang belakangan menjadi sorotan publik.
"Jadi, jadi yang nyimpan sampai 74 kilo itu salah itu ya?" kata Andi dengan nada bercanda.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Jahja menjawab sambil tertawa.
"Kurang pinter aja, Pak,” balas Jahja.
Seluruh aset investasi tercatat
Dalam kesempatan yang sama, Jahja juga menjelaskan bahwa aset keuangannya dikelola melalui berbagai instrumen investasi dan tercatat secara resmi.
Ia menyebut kepemilikan saham BCA yang dimilikinya telah dipublikasikan, sedangkan aset lain juga dilaporkan sesuai ketentuan.
"Kalau saya mah semua ada di bank, ada di mana-mana, jadi ya langsung recorded. Gitu, Pak,” jelasnya.
Menurut Jahja, seorang investor perlu melakukan diversifikasi dengan menempatkan dana pada berbagai instrumen, seperti saham, reksa dana, perusahaan sekuritas, asuransi, hingga properti. Dengan cara tersebut, aset tidak hanya lebih terdiversifikasi, tetapi juga memiliki pencatatan yang jelas.
FAQ
1. Apa yang dimaksud layanan bullion atau bank emas?
Bullion atau bank emas merupakan layanan yang memungkinkan masyarakat membeli, menjual, menyimpan, hingga mentransfer kepemilikan emas melalui lembaga keuangan yang memiliki izin sesuai ketentuan regulator.
2. Apakah emas digital atau virtual gold memiliki emas fisik sebagai aset dasar?
Pada layanan resmi, kepemilikan emas digital umumnya didukung oleh emas fisik yang disimpan oleh penyelenggara. Karena itu, penting memilih penyedia layanan yang berizin dan diawasi regulator.
3. Apakah menyimpan emas batangan di rumah melanggar hukum?
Tidak. Menyimpan emas di rumah merupakan tindakan yang sah selama emas tersebut diperoleh secara legal dan tidak berkaitan dengan tindak pidana maupun pelanggaran aturan perpajakan atau pelaporan yang berlaku.
4. Apa keuntungan menyimpan emas melalui bullion dibanding menyimpan sendiri?
Selain mengurangi risiko kehilangan akibat pencurian atau bencana, layanan bullion umumnya menawarkan kemudahan transaksi jual beli, pencatatan kepemilikan, dan sistem penyimpanan dengan standar keamanan yang lebih tinggi.
5. Mengapa diversifikasi investasi penting selain memiliki emas?
Diversifikasi membantu menyebarkan risiko investasi ke berbagai instrumen, seperti saham, reksa dana, obligasi, deposito, atau properti, sehingga tidak bergantung pada pergerakan harga satu jenis aset saja.
Recommended By Editor
- Doni Salmanan bebas bersyarat, dapat remisi 13 bulan dari Lapas Jelekong Bandung
- Kronologi kasus suami Boiyen, resmi dipolisikan atas dugaan penipuan investasi ratusan juta rupiah
- Bantah tudingan bawa lari dana investasi capai Rp1,3 triliun, begini pengakuan Dude Harlino
- Harga perak tembus rekor sepanjang masa, naik 13% hanya dalam sebulan
- 6 Tips jitu memaksimalkan investasi perak saat emas antam melambung

