Brilio.net - Desa Adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengalami kebakaran pada Sabtu (22/8/2026) malam. Api melanda kawasan permukiman masyarakat Suku Sasak yang selama ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya di Lombok.
Dirangkum brilio.net dari berbagai sumber, kebakaran dilaporkan terjadi pada malam hari dan dengan cepat menyebar ke sejumlah bangunan. Kondisi tersebut dipengaruhi karakter rumah adat di kawasan Sade yang banyak menggunakan material alami seperti kayu, bambu, anyaman bambu, serta atap ilalang atau jerami.
Berdasarkan keterangan pemerintah, jumlah kerusakan masih dalam proses pendataan. Kementerian Pariwisata menyebut ratusan rumah terdampak, sementara sejumlah laporan dari lapangan menyebut kawasan permukiman yang dihuni sekitar 150 kepala keluarga mengalami dampak kebakaran.
Api Cepat Menyebar di Permukiman Adat
Kebakaran Desa Sade Lombok
© 2026 /Instagram @lombokparadisereels; @laluhirjanaditia
Kawasan Sade merupakan permukiman yang cukup padat dengan bangunan rumah tradisional yang menggunakan bahan-bahan alami. Kondisi tersebut membuat api lebih mudah merambat dari satu bangunan ke bangunan lain. Tampak seperti dalam video yang diunggah oleh salah satu akun pariwisata di Lombok, @lombokparadisereels yang berkolaborasi dengan @laluhirjanaditia, tampak momen saat api melalap isi desa serta setelah api padam. Desa Adat Sade tampak hanya tersisa puing-puing sisa kebakaran.
Kebakaran Desa Sade Lombok
© 2026 /Instagram @lombokparadisereels; @laluhirjanaditia
Pemerintah Provinsi NTB menyebut kebakaran diduga dipicu korsleting listrik, dikutip dari ntbprov.go.id, Minggu (23/8/2026). Namun, penyebab kebakaran tetap perlu dipastikan melalui penanganan dan pemeriksaan pihak berwenang.
Saat api membesar, petugas pemadam kebakaran bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, serta masyarakat dikerahkan untuk melakukan pemadaman. Bantuan armada juga datang dari sejumlah wilayah di NTB.
Kebakaran Desa Sade Lombok
© 2026 kemenpar.go.id (Dokumentasi Dispar Lombok Tengah)
Beberapa hal yang diketahui dalam penanganan kebakaran tersebut antara lain:
- Kebakaran terjadi pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026.
- Lokasi berada di Kampung Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.
- Api cepat meluas karena sebagian besar bangunan menggunakan material kayu, bambu, dan ilalang.
- Ratusan rumah dilaporkan terdampak, sedangkan jumlah kerusakan masih didata.
- Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian tersebut.
- Warga yang kehilangan tempat tinggal disiapkan lokasi penampungan sementara.
- Pemerintah mulai menyiapkan langkah pemulihan dan rencana rekonstruksi kawasan.
Kebakaran Desa Sade Lombok
© 2026 kemenpar.go.id (Dokumentasi Dispar Lombok Tengah)
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal yang datang langsung ke lokasi menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas dalam penanganan kebakaran.
“Yang paling penting saat ini adalah bagaimana seluruh masyarakat dan warga dalam keadaan selamat,” ujar Gubernur Iqbal di lokasi kebakaran, dikutip dari ntbprov.go.id.
Warga Kehilangan Rumah dan Barang Dagangan
Kebakaran Desa Sade Lombok
© 2026 kemenpar.go.id (Dokumentasi Dispar Lombok Tengah)
Dampak kebakaran tidak hanya mengenai tempat tinggal. Barang-barang milik warga yang digunakan untuk menunjang aktivitas ekonomi juga ikut terdampak dilalap api, termasuk kain tenun dan kerajinan yang selama ini dijual kepada wisatawan.
Kondisi tersebut membuat penanganan warga tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat tinggal sementara. Pemerintah daerah juga perlu memastikan kebutuhan dasar serta keberlangsungan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat tetap diperhatikan.
Pemerintah Desa Rambitan menyiapkan bangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai lokasi sementara bagi warga yang terdampak.
Gubernur NTB mengatakan kebutuhan dasar masyarakat harus segera dipenuhi selama masa penanganan darurat.
“Yang pertama sekarang dan harus cepat adalah bagaimana kebutuhan dan rasa aman masyarakat yang rumahnya terbakar kita perhatikan. Kebutuhan sandang, pangan, dan aktivitas sosial ekonomi mereka harus kita pastikan,” katanya.
Pendidikan anak-anak yang terdampak juga menjadi perhatian pemerintah. Keberlangsungan kegiatan belajar diupayakan tetap terjaga selama warga menjalani masa pemulihan.
“Anak-anak kita pastikan pendidikannya tidak terganggu,” tegasnya.
Kementerian Pariwisata Siapkan Dukungan
Kementerian Pariwisata turut melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, serta pihak terkait untuk memantau kondisi warga dan menentukan bentuk bantuan yang dibutuhkan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan bahwa keselamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat menjadi prioritas setelah kebakaran.
“Kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam kepada seluruh masyarakat Kampung Adat Sade yang terdampak. Yang paling penting saat ini adalah memastikan warga dalam kondisi aman dan kebutuhan dasar masyarakat dapat segera terpenuhi,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, dilansir dari kemenpar.go.id.
Kementerian Pariwisata juga menginstruksikan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok untuk bersiap membantu penanganan warga. Salah satu dukungan yang disiapkan adalah dapur umum untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat terdampak.
“Saya sudah meminta Poltekpar Lombok untuk bergerak dan memberikan dukungan yang dibutuhkan masyarakat, termasuk menyiapkan dapur umum. Pelaksanaannya akan dilakukan secara terkoordinasi dan saat ini kami menunggu arahan Forkopimda Kabupaten Lombok Tengah agar bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran dan tidak tumpang tindih dengan penanganan yang sudah berjalan,” ujar Menpar Widiyanti.
Selain kebutuhan darurat, pemerintah juga mulai memikirkan tahap pemulihan kawasan setelah kondisi di lapangan memungkinkan.
Rekonstruksi Sade Akan Mempertahankan Identitas Budaya
Kebakaran Desa Adat Sade tidak hanya berdampak pada bangunan tempat tinggal. Kawasan tersebut merupakan ruang hidup masyarakat Sasak yang mempertahankan tradisi, bentuk hunian, kerajinan, dan tata kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sade selama ini dikenal sebagai destinasi wisata budaya karena wisatawan dapat melihat kehidupan masyarakat Sasak secara langsung. Rumah tradisional, kegiatan menenun, kerajinan, serta kesenian seperti Peresean menjadi bagian dari daya tarik kawasan tersebut.
Karena itu, rencana pembangunan kembali Sade nantinya tidak hanya berkaitan dengan mengganti bangunan yang terbakar. Pemerintah menyatakan proses pemulihan perlu memperhatikan nilai budaya dan karakter arsitektur tradisional Sasak.
Menteri Pariwisata menegaskan posisi Sade sebagai ruang hidup masyarakat, bukan semata kawasan wisata.
“Sade bukan sekadar destinasi wisata. Sade adalah rumah masyarakat, ruang hidup budaya Sasak, sekaligus bagian penting dari kekayaan pariwisata Indonesia. Karena itu, duka masyarakat Sade juga menjadi duka kita bersama,” ujar Menpar.
Sementara itu, Gubernur NTB menyatakan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah akan dilakukan untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk rencana rekonstruksi.
“Saya akan segera berkomunikasi dengan Bupati Lombok Tengah untuk mengambil langkah cepat dan tepat. Nanti kita pikirkan bagaimana merekonstruksi kembali Desa Adat Sade,” ujarnya.
Kementerian Pariwisata juga menyatakan pemulihan nantinya perlu menempatkan masyarakat Sade sebagai bagian utama. Rekonstruksi diharapkan tetap mempertahankan nilai budaya, kearifan lokal, serta karakter arsitektur tradisional Sasak yang menjadi identitas kawasan.
“Prioritas kita sekarang adalah masyarakat. Setelah kondisi darurat tertangani, kita akan bersama-sama memikirkan pemulihannya. Kita ingin Sade bangkit kembali tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ruang hidup dan warisan budaya masyarakat Sasak,” kata Menpar Widiyanti.
Mengenal Desa Adat Sade dan Tradisi Suku Sasak
Kebakaran Desa Sade Lombok
© 2026 /Instagram @lombokparadisereels; @laluhirjanaditia
Sebelum kebakaran, Desa Adat Sade menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi wisatawan untuk mengenal kehidupan masyarakat Sasak. Letaknya juga berada tidak jauh dari kawasan Mandalika.
Salah satu ciri kawasan ini adalah rumah tradisional dengan penggunaan material alami. Rumah adat yang dikenal sebagai Bale dan Lumbung menjadi bagian dari lanskap permukiman Sade.
Selain arsitektur, aktivitas menenun juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Wisatawan yang berkunjung sebelumnya dapat melihat proses pembuatan kain tenun secara tradisional dan membeli hasil kerajinan sebagai oleh-oleh.
Kesenian Peresean juga menjadi salah satu unsur budaya Sasak yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Lombok.
Dengan dampak kebakaran yang masih dalam proses pendataan, penanganan saat ini diarahkan terlebih dahulu pada keselamatan serta pemenuhan kebutuhan warga. Setelah tahap darurat selesai, pemerintah bersama masyarakat adat akan menentukan bentuk pemulihan kawasan dengan tetap mempertimbangkan kehidupan masyarakat dan keberlanjutan identitas budaya Sade.
Recommended By Editor
- Traveling ke Jepang jangan lupa pakai BRI Kartu Kredit JCB Platinum, bertabur promo & benefit cashback
- Kebakaran Diskominfo Kutai Kartanegara, pegawai diduga bakar ruang rapat akibat foto dibuat stiker
- Jaga cashflow bulanan kini makin mudah dengan Program Cicilan BRI Kartu Kredit, bunga mulai 0%
- Nycta Gina syok rumah tetangganya di Pulomas terbakar hingga telan 2 korban jiwa, ikut berbelasungkawa
- Ratusan ibu-ibu rayakan HUT RI di Taman Ahmad Yani Medan bareng Mahsuri, yuk intip keseruannya!
- Anggota BPK Haerul Saleh meninggal dunia dalam insiden kebakaran rumah di Jakarta Selatan
- Penampakan 3.500 Alquran milik Anisa Rahma eks Cherrybell yang selamat dari kebakaran rumah
- Direktur Utama Terra Drone jadi tersangka kebakaran yang menewaskan 22 karyawan
- Identifikasi 22 jenazah korban kebakaran Terra Drone tuntas
- 5 Fakta kebakaran gedung Terra Drone di Jakarta Pusat, tewaskan 22 orang termasuk ibu hamil







